
Panas sekali hari ini, Rabu (23/3) Jaka masih terlihat sibuk mondar mandir diantara mereka yang berteriak-teriak menuntut mundur rezim SBY- Budhiono, mereka meneriaki para pemimpin negri ini dengan kata-kata kotor dan makian serta cacian. Jaka tampak serius memperhatikan mereka, entah apa yang dia pikirkan. setelah mondar mandir tidak jelas, bertanya--tanya sedikit dan menerima sebuah lembaran dia kembali ke tempat saya berdiri. Dia terdiam, seolah ingin memecahkan sesuatu, "Apa ini masih efektif?" tanya dia kepada saya. "Apa yang efektif Jak?" tanya saya kembali padanya, "Ya ini, demonstrasi, mereka menghabiskan uang, membayar makanan minuman untuk massa mereka, hari ini saja sudah lebih dari tiga puluh orang, mereka mahasiswa dapet uang dari mana ya? belum lagi membayar mereka itu tu.." lanjutnya. "Mereka yang mana Jak?" tanyaku, "itu, yang belakang itu" jawabnya sambil menunjuk kepada tiga orang yang sempat dia tanyai barusan. "Mereka memang siapa? kok dibayar Jak?" tanya saya heran. "Menurut beberapa orang yang sempet ngobrol sama gue dijalan, kadang-kadang mereka memanggil orang bayaran buat ikut meramaikan demonstrasi, gue awalnya sangsi si emang, tapi gue heran, tadi pas gue tanya, 'mas dari kampus mana aja nih?' mereka bilang dengan wajah bingung dan.. ya aneh lah bilang 'ermm.. ga tau yah' tapi mereka masuk barisan dan mengibar-kibarkan bendera seolah-olah mereka disana sangat bersemangat Tor" Jelasnya. "Jadi menurut kamu memang benar ada orang yang dibayar dalam rombongan ini Jak?" tanyaku kembali. "bisa jadi si kalo emang begitu, temen gue si Jaka Cepot juga di ospek suruh ngelakuin kayak gini di kampusnya, padahal mungkin pengetahuan dia saat awal masuk kampus itu belum terlalu luas lho" Jawabnya kembali.
Belom abis sob.. baca lagi lah..Label: buku, hari-hari, pandangan pada media, sejarah